1Lynx lalu menceritakan lagi percakapan yang didengarnya saat memeriksa lorong. “Mereka tahu aku masih ada di sekitar perkampungan, mereka menebak aku akan datang lagi untuk menyelamatkan tahanan, dan menyergap mereka jika tahu mereka keluar bersama tahanan.” kata Lynx tegas.

Lynx melanjutkan “Itu sebabnya Kronar menunda membawa para tawanan kepada Monrest. Dia memutuskan untuk meninggalkan mereka di sini sementara dia pergi. Mereka pikir aku akan menyerang lagi sehingga mereka harus waspada.”

“Jadi apa rencanamu?” tanya Darek dengan penuh perhatian.

Lynx berpikir sejenak sebelum menjawab, “Kita manfaatkan kesempatan ini. Begitu Kronar pergi, jumlah mereka akan sedikit berkurang. Tanpa adanya pemimpin, mereka akan kacau balau saat menghadapi serangan mendadak kita, dan saat itu kita bisa bertindak.”

Ekar mengangguk, meskipun wajahnya masih terlihat ragu. “Tapi Gahara... dia tidak akan membiarkan kita bergerak bebas.”

“Kita perlu pengalihan,” kata Lynx. “Kumpulkan kayu kering sebanyak mungkin. Kita akan membuat api besar untuk mengalihkan perhatian mereka. Itu akan memberi kita waktu untuk masuk dan membebaskan para tawanan.”

Lynx melanjutkan penjelasannya. "Kita akan membebaskan tawanan yang ditawan di dalam bangunan terlebih dahulu dan mengeluarkan mereka dari lorong rahasia. Aku akan berusaha secepat mungkin membebaskan mereka tanpa diketahui perampok lainnya."

"Lalu bagaimana dengan tawanan yang masih ada di tengah lapangan?" Tanya Ekar dengan penuh semangat."

"Setelah kita membebaskan para tawanan di dalam bangunan, aku akan membakar beberapa bangunan yang menyimpan bahan makanan mereka untuk menimbulkan kepanikan di antara mereka dan salah satu dari kalian akan membakar kayu yang sudah kita kumpulkan sebagai pengalih perhatian lainnya. Saat itu, aku akan membebaskan tawanan."

Rafin melangkah maju. “Bagaimana kalau mereka tahu itu jebakan?”

“Kita harus bergerak cepat,” jawab Lynx dengan tegas. “Aku akan masuk melalui lorong rahasia, sementara kalian tetap di luar untuk menyambut tawanan yang sudah lolos. Ketika mereka fokus pada api, aku akan membebaskan para tawanan lainnya.”

Jelita menatap Lynx dengan cemas. “Dan bagaimana kalau kau tertangkap lagi?”

Lynx menatapnya dengan tenang, meskipun ada tekad yang kuat di matanya. “Aku tidak akan tertangkap lagi. Kali ini, aku tahu apa yang harus dilakukan.”

Mereka semua akhirnya setuju dengan rencana Lynx. Malam itu juga mereka mulai mengumpulkan kayu kering di hutan sekitar. Waktu sangat berharga untuk dapat menjalankan rencana dengan baik. Sementara itu Lynx kembali ke lorong rahasia, memantau situasi dan memulai misinya untuk menghancurkan rencana Kronar.

Keesokan harinya, Lynx bersembunyi di dekat salah satu bangunan, menunggu tanda yang menunjukkan Kronar dan kelompoknya telah meninggalkan perkampungan. Beberapa saat kemudian, ia melihat rombongan kecil meninggalkan perkampungan dengan membawa beberapa tawanan.

"Mereka sungguh pintar. Membawa tahanan untuk melindungi mereka jika ada yang menyerang." Batin Lynx.

Setelah beberapa waktu memastikan Kronar telah jauh, “Inilah saatnya,” gumam Lynx, mempersiapkan diri untuk bertindak.

Dengan gerakan lincah, ia menyelinap menuju bangunan pertama yang menjadi tempat tahanan. Para penjaga di luar tampak lengah, tidak menyadari bayangan Lynx yang bergerak cepat. Dengan tangan kosong dan ketepatan mematikan, Lynx menundukkan dua penjaga dalam waktu singkat, menghindarkan mereka dari memberi peringatan.

Di dalam, beberapa tahanan duduk berdesakan di sudut ruangan. Wajah mereka menunjukkan kelelahan dan ketakutan.

“Kalian di sini untuk bebas,” bisik Lynx sambil memotong tali yang mengikat mereka. “Ikuti aku.”

Dengan gerakan yang tenang dan berhati-hati, Lynx membawa mereka ke jalan rahasia yang telah disiapkan. Di ujung lorong, Jelita dan Darek menyambut mereka dengan cemas, memastikan mereka semua tetap aman.

“Pergilah ke tempat aman, kalian bisa bersembunyi di sana,” kata Jelita sambil menggenggam tangan seorang wanita tua yang masih gemetar dan mengarahkannya ke sebuah tempat.

Lynx melanjutkan penyelamatan, bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain. Setiap kali ia menemukan penjaga, pertarungan singkat terjadi. Lynx menyerang dengan cepat dan efisien, memastikan tidak ada peringatan yang bisa menyebar ke penjaga lain.

Para tawanan saling bekerjasama. Tawanan yang sehat membantu tawanan yang terluka. Mereka menyadari harus bekerja sama untuk dapat lolos dari tempat itu.

Di salah satu bangunan, seorang penjaga mencoba memukul Lynx dengan tombak, tetapi Lynx menangkap ujung senjata itu dan memutar tubuhnya, menghantamkan lututnya ke dada penjaga itu hingga dia tersungkur.

Setelah semua penjaga di bangunan tersebut dikalahkan, Lynx kembali membebaskan tahanan dan memandu mereka ke jalan rahasia. Seorang pemuda yang ditahan, berdiri di mulut lorong rahasia, menunggu dan membantu mereka masuk.

“Cepat, masuk!” bisik pemuda itu sambil melirik ke sekeliling dengan cemas.

“Lynx, berapa banyak lagi yang tersisa?” tanya Darek ketika Lynx kembali ke lorong.

“Sisa tahanan ada di penjara besar,” jawab Lynx sambil mengatur napas. “Aku akan membebaskan mereka setelah ini. Kalian tetap di sini dan pastikan semua yang dibebaskan pergi ke tempat aman.”

Lynx bergerak menuju gudang ransum yang menjadi target berikutnya. Dengan sigap, ia menyalakan api kecil di sudut bangunan, memastikan bahan mudah terbakar seperti jerami di dalamnya mulai menyala. Dalam hitungan menit, api mulai membesar, menjilat dinding kayu dan atap gudang.

Dari kejauhan, para perampok melihat asap mengepul tinggi ke langit.

“Gudang terbakar!” teriak salah satu penjaga, memicu kepanikan.

“Padamkan apinya!” seru seorang perampok lain sambil berlari ke arah gudang.

"Cepat! Padamkan. Jangan biarkan makanan kita habis terbakar!" Teriak perampok lainnya.

Di saat yang sama, di dekat perkampungan, terlihat dua sosok sedang berusaha melarikan diri. Setelah Rafin dan Ekar menyalakan tumpukan kayu yang telah dikumpulkan, mereka segera melarikan diri ke tempat aman sesuai rencana yang telah disepakati. Api besar membakar hutan kecil di sekitar perkampungan, menciptakan lebih banyak kekacauan di antara para perampok.

“Kita tidak bisa menangani ini semua tanpa Kronar!” keluh salah satu perampok.

“Fokus pada tawanan!” bentak perampok lain, meskipun suaranya tidak mampu untuk mengendalikan kerumunan yang panik.

"Cepat, kita bagi tugas! Padamkan api yang diluar sebelum masuk ke perkampungan!" Teriakan panik terdengar dari salah satu perampok.

Di dalam kekacauan yang terjadi, Para perampok tersebut tidak menyadari jika sebagian besar rekan-rekan mereka yang menjaga para tahanan di dalam bangunan sudah tidak ada lagi.

Dengan para perampok sibuk memadamkan api, Lynx menyelinap menuju penjara besar yang terletak di tengah perkampungan. Bangunan itu dikelilingi oleh beberapa penjaga, tetapi mereka terlihat gugup dan bingung dengan situasi.

Lynx melompat dari atap salah satu bangunan, mendarat di dekat dua penjaga yang sedang berdiri di pintu masuk penjara. Sebelum mereka sempat bereaksi, Lynx menghantamkan sikunya ke rahang salah satu penjaga, sementara kakinya menendang dada penjaga lain.

Ia membuka pintu penjara besar dengan kunci yang diambil dari salah satu penjaga. Di dalam, puluhan tahanan berdesakan. Mereka terlihat lemah dan penuh luka, tapi mata mereka bersinar penuh harapan ketika melihat Lynx.

“Semua orang, ikut aku,” kata Lynx sambil membantu salah satu pria tua yang kesulitan berdiri.

Beberapa tahanan yang masih kuat membantu yang lain berjalan keluar. Lynx memimpin mereka ke arah jalan rahasia, memastikan tidak ada perampok yang melihat mereka.

"Aku harus kembali, masih ada tawanan yang dibawa ke bangunan pemimpin mereka saat kekacauan." batin Lynx.

Para perampok yang tersisa semakin kewalahan. Beberapa berusaha memadamkan api di gudang, sementara yang lain mencoba menangani kebakaran di hutan. Mereka mulai saling menyalahkan, tidak ada pemimpin yang memberikan komando jelas.

“Di mana Kronar saat kita butuh dia?” keluh seorang perampok sambil menatap api yang terus membesar.

“Apa ada orang yang tahu siapa yang memulai ini semua?” tanya perampok lain dengan marah.

“Kita harus menjaga tawanan!” bentak seorang penjaga  yang terlihat lebih berpengalaman. “Kumpulkan mereka semua—”

Namun, sebelum dia bisa melanjutkan, Lynx muncul dari bayangan, menendang tombaknya keluar dari tangan. Dengan gerakan cepat, Lynx mengalahkan penjaga itu, memastikan tidak ada perlawanan yang bisa mengancam tahanan terakhir yang dibebaskannya.
